Gairah akan Supremasi Allah, Bagian 2


Tinjauan terhadap Gairah akan Supremasi Allah, Bagian 1

Allah Adalah Allah yang Berpusat pada Allah

Dalam upaya untuk membakar gletser dan menyebarkan gairah akan supremasi Allah dalam segala hal demi sukacita bagi segala bangsa, saya kemarin telah berupaya untuk menjelaskan betapa Allah melakukan segala yang dilakukan-Nya semata-mata demi kemuliaan nama-Nya. Allah membesarkan diri Allah sendiri. Di seluruh alam semesta ini, hati yang paling bergairah bagi Allah adalah hati Allah sendiri. Itulah poin utamanya. Dalam pemahaman saya, Gairah ’97 memiliki tema gairah Allah bagi Allah. Segala sesuatu yang dilakukan-Nya, dari penciptaan hingga penggenapan (konsumasi), dilakukan-Nya dengan visi menyatakan dan meninggikan kemuliaan nama-Nya sendiri.

Keberpusatan Allah pada Allah Bukanlah Tidak Penuh Kasih

Poin kedua dari pembahasan kemarin adalah bahwa keberpusatan Allah pada Allah ini bukanlah tidak penuh kasih. Allah meninggikan diri-Nya dengan cara ini bukanlah tidak penuh kasih, alasannya adalah karena mengenal Allah dan tertarik masuk ke dalam pujian akan Allah adalah hal yang memberi kepuasan bagi jiwa manusia. “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa” (Mazmur 16:11). Karena itu jika Allah meninggikan diri-Nya – hingga kita boleh melihat diri-Nya sebagaimana adanya – memuaskan jiwa kita, maka Allah adalah satu keberadaan di dalam seluruh alam semesta, yang bagi-Nya peninggian diri-Nya sendiri merupakan kebajikan tertinggi dan esensi dari kasih.

Anda tidak dapat meniru Dia dalam hal ini. Bila Anda sampai meninggikan diri Anda untuk dinikmati oleh orang lain, maka Anda telah menjadi penuh kebencian – bukan penuh kasih – karena Anda telah mengalihkan perhatian mereka dari satu keberadaan yang berkuasa memuaskan jiwa mereka. Karena itu, kita tidak boleh meniru Allah dalam ke-Allahan-Nya. Allah hanyalah satu dan satu-satunya keberadaan di seluruh alam semesta, yang memiliki keunikan absolut, yang bagi-Nya peninggian diri merupakan esensi dan fondasi dari kasih. Jika Ia adalah Allah, maka selayaknyalah demikian.

Kita mungkin menginginkan agar Dia mengasihi seperti halnya seorang manusia mengasihi, dengan menjadikan manusia lain sebagai pusat perasaan kasihnya; tetapi Ia tidak dapat berlaku demikian, sambil tetap menjadi Allah. Ia tak ternilai pada diri-Nya sendiri. Tak ada yang lain kecuali Allah. Karena itu Ia – untuk mengatakannya secara terus terang – akan tetap tinggal dalam keberadaan-Nya yang agung, mulia, sepenuhnya-memadai, dan cukup-diri, tanpa perlu melibatkan diri Anda dalam bentuk apa pun. Ini merupakan fondasi dari anugerah. Jika Anda berupaya menjadikan diri Anda pusat dari anugerah, maka itu takkan layak lagi disebut sebagai anugerah. Anugerah yang berpusat pada Allah itu adalah anugerah alkitabiah.

Sukacita saya bukan mencapai kepenuhannya ketika Allah menjadikan diri saya pusat dari alam semesta. Sukacita saya akan mencapai kepenuhannya justru ketika Allah menjadi pusat dari alam semesta, untuk selamanya, dan menarik saya masuk ke dalam persekutuan dengan diri-Nya, untuk memandang Dia, mengenal Dia, menikmati Dia, mengasihi Dia, memandang Dia berharga, menikmati kepenuhan di dalam Dia, di sepanjang hari-hari di dalam kekekalan.

Semua itu merupakan topik pembahasan kita kemarin.

Implikasi Keberpusatan Allah pada Allah bagi Umat Manusia

Jadi, hari ini ... jika apa yang telah saya katakan sejauh ini benar, jika itu alkitabiah, maka akan ada implikasi yang mencengangkan bagi hidup Anda. Hal itu seperti demikian: ketika Anda meninggalkan tempat ini, dan kembali ke gereja atau kampus Anda, Anda harus mengupayakan agar diri Anda sedapat mungkin boleh menikmati kepenuhan ... di dalam Allah. Maka seruan saya kepada Anda sekarang, dalam nama Allah Yang Maha Kuasa, adalah bahwa Anda hendaknya mengupayakan sukacita Anda dengan segenap kekuatan yang telah diinspirasikan Allah dengan kuat kuasa-Nya di dalam diri Anda, dan menjadikan hal tersebut sebagai upaya kekal Anda

Yang menjadi masalah dalam kehidupan saya maupun kehidupan Anda, bukanlah bahwa Anda sedang mengupayakan kesukaan Anda sementara seharusnya melakukan kewajiban Anda. Itu bukanlah hal yang menjadi pertimbangan saya atau pertimbangan Allah atau pertimbangan Alkitab dalam menilai masalah Anda. Terkait dengan hal ini, C. S. Lewis dalam khotbah inspiratifnya yang bertajuk The Weight of Glory (“Bobot Kemuliaan”) telah mengemukakan pemahamannya dengan sangat tepat. Ia mengemukakan bahwa yang menjadi masalah kita sesungguhnya adalah bahwa kita terlalu mudah dipuaskan, bukannya bahwa kita terlalu berhasrat mengejar kesukaan kita. Ia mengibaratkan diri kita sebagai sekumpulan anak-anak yang sedang membodohi diri sendiri dengan bermain lumpur di sebuah perkampungan kumuh, karena kita tidak mampu membayangkan bagaimana nikmatnya berlibur di laut itu. Yang menjadi masalah kita adalah bahwa kita sedang mencengkeram erat-erat sebuah berhala dari kaleng, sementara sebuah realitas dari emas sedang menanti di hadapan kita. Kita terlalu mudah dipuaskan. Yang menjadi masalah dunia ini bukanlah hedonisme; melainkan kegagalan hedonisme dalam mengupayakan apa yang mendatangkan kepuasan sejati. Itulah poin pemberitaan saya pagi ini.

Dan implikasi dari hal itu, jika hal itu memang benar, adalah Anda harus menjadi seperti George Mueller, yang setiap pagi sebelum ia pergi keluar dan melakukan sesuatu, selalu berkata kepada dirinya sendiri demikian “Saya harus menjadikan hati saya bahagia di dalam Allah atau saya akan menjadi tidak berguna bagi siapa pun. Saya akan menjadikan mereka sarana dan kesempatan demi memenuhi kerinduan dan tangung jawab saya.” Jika Anda ingin menjadi orang yang mengasihi, jika Anda ingin memiliki kerelaan untuk menyerahkan hidup Anda bagi sesama, Anda harus menjadikan kebahagiaan di dalam Allah sebagai tujuan hidup Anda. Itulah berita kita hari ini, yakni bahwa diri kita ini terlalu mudah dipuaskan.

Kita telah merasa puas dengan berbagai kesukaan yang sedemikian tidak penting, tidak kekal, tidak memadai, dan tidak memuaskan itu, hingga kapasitas kita untuk bersukacita menjadi mengerut sedemikian rupa, hingga membuat kita mengasumsikan kewajiban tanpa sukacita sebagai esensi kebajikan, demi menyembunyikan hati kita yang ternyata belum diubahkan dan tak dapat digerakkan oleh Allah itu. Anda lihat betapa kentalnya semangat melarikan diri ini di sini? Pagi ini saya sedang berada dalam kampanye melawan para pengikut Stoikisme dan Immanuel Kant, sang filsuf dari Abad Pencerahan, yang mengatakan bahwa sejauh Anda tak dapat memperoleh manfaat dari tindakan moral yang Anda lakukan, maka sejauh itu pula Anda telah mengecilkan nilai kebajikannya. Konsep ini bukan sekadar tidak diajarkan dalam Alkitab ... tetapi juga bersifat sangat destruktif. Konsep ini sangat efektif untuk menghancurkan ibadah, kebajikan, keberanian, dan keberpusatan pada Allah dalam segala aspek kehidupan. Sebaliknya, konsep ini meninggikan manusia, sang makhluk bajik yang melakukan kewajibannya tanpa keyakinan akan Allah yang akan memuaskan jiwanya. Sungguh mengenaskan! Semoga hal seperti ini dijauhkan dari hati kita untuk selamanya.

Saya sedang berada dalam sebuah kampanye untuk memerangi apa yang tengah bergentayangan di langit pekabaran Injil. Saya telah mulai terlibat dalam kampanye ini sejak 25 tahun yang lalu, dan telah terus-menerus berada di dalamnya semenjak saat itu, berupaya untuk membina keluarga saya di dalamnya, membangun gereja saya di atasnya, menulis sejumlah buku bertemakannya, bergumul untuk hidup di dalamnya. Lalu, sedikit demi sedikit keberatan pun bermunculan. Itulah cara Anda bertumbuh. Beberapa orang dari Anda telah mengatakan kepada saya bahwa Anda merasa dunia Anda seperti sedang dijungkirbalikkan oleh konferensi ini. Paradigma-paradigma pun diguncangkan. Revolusi Copernicus [yaitu, revolusi yang mengubah hidup] pun segera akan tiba, dan memang demikianlah jalannya jika Anda hendak mulai berubah. Itu mungkin berlangsung sekitar 15 tahun ... satu keberatan demi satu keberatan. Pada tahun 1968, saya mulai menyadari hal-hal ini dengan bantuan Dan Fuller, C. S. Lewis, Jonathan Edwards, Raja Daud, Rasul Paulus, dan Yesus Kristus. Dan cara untuk membuat pikiran saya bekerja adalah dengan menjadikan satu keberatan demi satu keberatan bermunculan sehingga saya pun mengerut dibuatnya lalu pergi mencari Alkitab saya, menangis, berseru, bergumul, bertanya, berdoa, dan berdialog. Lalu sedikit demi sedikit keberatan-keberatan itu pun memurnikan visi.

Keberatan-keberatan

  1. Apakah Alkitab benar-benar mengajarkan bahwa Anda harus mengupayakan sukacita Anda dengan segenap hati, pikiran, jiwa dan kekuatan Anda. Atau, apakah itu bukan sekadar strategi khotbah John Piper demi mendapatkan perhatian?

  2. Bagaimana halnya dengan penyangkalan diri? Bukankah Yesus berkata, “Barangsiapa mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya?”

  3. Tidakkah ini terlalu mementingkan emosi? Bukankah Kekristenan pada hakikatnya merupakan masalah kehendak, yang olehnya kita membuat komitmen dan keputusan?

  4. Bagaimana dengan konsep mulia tentang melayani Allah sebagai kewajiban jika itu sulit dan Anda tidak menyukainya?

  5. Tidakkah ini hanya menempatkan diri saya – dan bukannya Allah – sebagai pusat dari segala hal?

Menjawab Keberatan-keberatan

1. Apakah Alkitab benar-benar mengajarkan bahwa Anda harus mengupayakan sukacita Anda?

Jawaban saya adalah ya, dan hal itu benar, setidaknya terkait dengan 4 cara:

a) Dengan perintah-perintah

Coba renungkan Mazmur 37:4 – “Bergembiralah karena TUHAN.” Ini bukanlah sebuah anjuran, ini adalah sebuah perintah. Jika Anda percaya bahwa, “Jangan berzinah” adalah sesuatu yang harus Anda taati, maka Anda juga harus menaati, “Bergembiralah karena TUHAN.”

Atau Mazmur 32:11, “Bersukacitalah dalam TUHAN dan bersorak-soraklah, hai orang-orang benar; bersorak-sorailah, hai orang-orang jujur!” atau Mazmur 100, “Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita.” Itu adalah perintah: “Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita!” Sejauh Anda tidak peduli apakah Anda beribadah kepada Tuhan dengan sukacita atau tidak, sejauh itu pula Anda tidak peduli akan Allah. Ia berfirman agar Anda beribadah kepada Tuhan dengan penuh sukacita. Atau Filipi 4:4, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!”

Perintah-perintah itu tercatat di seluruh bagian Alkitab. Kita sedang berbicara tentang perintah. Itulah cara pertama yang digunakan Alkitab untuk mengajarkan hal ini.

b) Dengan ancaman

Jeremy Taylor pernah berkata, “Allah mengancam untuk mendatangkan kengerian, jika kita tidak mau berbahagia.” Ketika pertama kali mendengarnya, saya menilai kalimat itu cerdas. Namun ternyata lebih dari itu. Kalimat itu bukan sekadar cerdas ... tetapi merupakan kutipan dari Ulangan 28:47 yang ternyata sangat mengerikan, “Karena engkau tidak mau menjadi hamba kepada TUHAN, Allahmu, dengan sukacita dan gembira hati, karena itu engkau akan menjadi hamba kepada musuh yang akan disuruh TUHAN melawan engkau.” Allah mengancam untuk mendatangkan kengerian jika kita tidak mau berbahagia di dalam Dia. Apakah itu pembenaran bagi hedonisme atau apa? Apakah itu merupakan pembenaran yang berotoritas untuk menjadikan seluruh aktivitas hidup Anda sebagai upaya untuk mengupayakan sukacita Anda di dalam Allah dengan segenap kekuatan Anda?

c) Dengan menghadirkan iman yang menyelamatkan itu sebagai perihal secara esensial dipuaskan dengan seluruh keberadaan Allah bagi Anda di dalam Yesus Kristus

Contohnya, Ibrani 11:6: “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Jika Anda rindu diperkenan oleh Allah, Anda harus memiliki iman. Apakah iman itu? Datang kepada Dia yang benar itu dengan keyakinan yang sungguh bahwa Ia akan memberi upah kepada Anda karena datang kepada Dia. Jika Anda tidak percaya akan hal itu, atau jika Anda datang kepada Allah dengan motivasi yang lain, Anda tidak akan berkenan bagi Allah.

Atau, lihatlah Yohanes 6:35: Kata Yesus, “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Perhatikanlah itu: barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. Apakah makna semua itu terkait dengan iman? Apakah sebenarnya iman itu? Menurut theologi Rasul Yohanes, iman adalah tindakan datang kepada Yesus demi kepuasan jiwa kita sedemikian rupa, hingga seolah-olah tak ada sesuatu pun yang lain yang mampu memuaskannya. Itulah iman. Iman bukanlah yang lain, kecuali apa yang sedang saya bicarakan ini. Saya sedang membongkar asumsi dasar Kekristenan dalam bahasa yang belum terlalu Anda kenal.

d) Dengan mendefinisikan dosa sebagai sebuah kegilaan oleh karena membuang kesempatan untuk mengupayakan sukacita Anda di dalam Allah

Dosa adalah sebuah kegilaan oleh karena membuang kesempatan untuk mengupayakan sukacita Anda di dalam Allah. Demikianlah bunyi ayatnya: Yeremia 2:12-13: “Tertegunlah atas hal itu, hai langit, menggigil dan gemetarlah dengan sangat, demikianlah firman TUHAN. Sebab dua kali umat-Ku berbuat jahat: mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air.” Katakan kepada saya, apakah sebenarnya kejahatan itu? Definisi kejahatan, yang mengejutkan alam semesta, yang menyebabkan malaikat-malaikat Allah mengatakan, “Tidak! Itu tidak mungkin!” ... apakah itu? Kejahatan itu adalah memandang kepada Allah, sumber air hidup yang memberi nikmat senantiasa, dan mengatakan “Tidak, terima kasih,” lalu berpaling kepada televisi, seks, pesta, minuman keras, uang, prestise, rumah peristirahatan, liburan, program komputer yang baru, seraya mengatakan “Ya!” Itu gila! Dan itu menyebabkan seisi sorga tertegun, menurut Yeremia 2:12.

Setidaknya dengan empat cara itulah, Alkitab sedang menyatakan bahwa John Piper sedang mengajarkan kebenaran pagi ini, ketika ia mengajar Anda untuk memberikan hidup Anda demi mengupayakan kepuasan Anda di dalam Allah. Maka keberatan nomor 1 pun gugur sudah.

2. Bagaimana Halnya dengan Penyangkalan Diri?

Bukankah Yesus berkata dalam Markus 8:34, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku”? Salib merupakan tempat Anda mengalami kematian, sebuah tempat eksekusi. Itu bukanlah seorang ibu mertua yang mudah tersinggung, atau seorang teman sekamar yang jahat, atau sejenis penyakit di dalam tulang Anda. Itu adalah kematian dari diri sendiri. Jadi Piper, Anda sesat jika Anda mengajak kami untuk menjadikan upaya mengejar kepuasan jiwa kami sebagai aktivitas seumur hidup kami. Saya sudah menyadari itu ... lalu saya pun membaca kelanjutan ayat itu (membaca konteks terkadang dapat sangat menolong): “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.” Apakah logikanya di sini? Apakah logika Yesus dalam ayat-ayat itu?

Logikanya adalah demikian:

– “O murid-murid-Ku, jangan sampai kehilangan nyawamu. Jangan sampai kehilangan nyawamu. Selamatkanlah nyawamu! Selamatkanlah nyawamu!”

– “Bagaimana? ... bagaimana caranya Yesus?”

– “Lepaskanlah.”

– “Aku tidak mengerti.... Aku tidak mengerti Yesus.”

– “Murid-murid-Ku yang terkasih – Maksud-Ku adalah lepaskan nyawamu dalam pengertian bahwa kamu kehilangan segala yang lain kecuali Aku. ‘Kecuali biji gandum jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja. Tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.’ Mati terhadap dunia. Mati terhadap prestise, mati terhadap harta benda, mati terhadap seks yang tidak kudus, mati terhadap kecurangan demi mencapai kemenangan, mati terhadap kebutuhan akan pengakuan atas diri. Matilah terhadap semua itu, dan milikilah Aku.”

Saya percaya pada penyangkalan diri. Sangkalilah kaleng demi memperoleh emas. Sangkalilah pasir demi boleh tegak berdiri di atas batu karang. Sangkalilah air payau demi menikmati anggur. Tidak ada penyangkalan diri yang ultimat, tidak pernah pula Yesus memaksudkan yang seperti itu. Saya percaya pada penyangkalan diri. Saya percaya pada firman mengenai Yesus yang difirmankan oleh Yesus ini: Matius 13:44. “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.” Anda menyebut itu penyangkalan diri? Ya! Ia menjual segala sesuatu. Ia menganggap segala sesuatu sebagai barang tak berharga dan sampah, demi ia boleh memperoleh Kristus.

Jadi, Ya, itulah penyangkalan diri; tetapi, Tidak, itu bukan penyangkalan diri. Ada diri yang harus disalibkan: diri yang mengasihi dunia. Tetapi diri yang baru – diri yang mengasihi Kristus di atas segala sesuatu dan menemukan kepuasannya di dalam Dia – jangan membunuh diri yang seperti itu. Sebab, itulah ciptaan yang baru. Kenyangkanlah [dalam sukacita dan kepuasan] diri itu di dalam Allah.

Ya, saya percaya pada penyangkalan diri. Saya percaya pada penyangkalan diri yang tidak dapat dipahami oleh orang muda yang kaya itu, tetapi yang diajarkan oleh Yesus pada saat itu:

“Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Tetapi orang muda tidak rela melakukannya. Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Lalu murid-murid itu makin gempar dan mereka berkata: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Lalu Yesus berkata: “Bagi manusia hal itu tidak mungkin. Tak seorang pun oleh kekuatannya sendiri sanggup memiliki hati yang Kuperkenan. Tetapi bukan demikian bagi Allah,” Ia berkata, “Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.” Lalu Petrus mulai berbicara, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau! Bagaimana dengan kami? Sesungguhnya kami telah berkorban.” Kemudian Yesus merespons –saya berharap saya mengetahui nada suara-Nya – dan berkata, “Petrus, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. Kamu tak mungkin sanggup mengorbankan sesuatu yang tidak akan dibayar kepadamu ratusan kali lipat. Jangan mengasihani dirimu ketika kepalamu dipenggal karena Aku” (lihat Markus 10:17-31).

Ya saya percaya pada penyangkalan diri. Saya percaya pada penyangkalan diri terhadap segala sesuatu yang akan menghalangi langkah saya demi memperoleh kepuasan sepenuhnya di dalam Allah, dan demikianlah saya memahami apa yang dimaksud oleh Alkitab dengan penyangkalan diri. Saya percaya bahwa David Livingstone dan Hudson Taylor – para misionaris besar ini – mutlak benar, ketika tiba pada saat terakhir hidup mereka, kehilangan istri, harta benda, dan segala yang lain kecuali satu hal, untuk berpesan kepada para mahasiswa Cambridge University dan manusia di seluruh dunia, “Saya belum pernah satu kali pun berkorban.” Itu benar. Saya tahu apa yang mereka maksudkan dan Anda pun tahu apa yang mereka maksudkan. Saya percaya bahwa Jim Elliot yang menyerahkan nyawanya sebagai anak muda, mutlak benar untuk mengatakan, “Sama sekali tidaklah bodoh jika orang melepaskan apa yang tidak dapat diperolehnya, demi memperoleh apa yang tidak mungkin lepas darinya.” Itulah apa yang saya percaya tentang penyangkalan diri. Maka keberatan nomor 2 pun gugurlah.

3. Tidakkah Anda Terlalu Mementingkan Emosi?

Bukankah Kekristenan pada hakikatnya adalah keputusan? Komitmen dari kehendak? Bukankah emosi sekadar sebuah tambahan, sebuah pilihan, dekorasi pada sebuah kue? Saya pikir, Piper, cara Anda berbicara tentang Kekristenan itu telah meninggikan status emosi hingga taraf yang tidak lagi alkitabiah.

Tetapi kemudian saya membaca Alkitab – membaca Alkitab itu sangatlah menolong saat Anda sedang terlibat dalam sebuah argumentasi – dan saya pun memahami betapa:

  • Kita diperintahkan untuk merasa bersukacita: Filipi 4:4, “Bersukacitalah dalam Tuhan.”

  • Kita diperintahkan untuk merasa berharap: Mazmur 42:6, “Berharaplah kepada Allah.”

  • Kita diperintahkan untuk merasa takut: Lukas 12:5, “Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka.”

  • Kita diperintahkan untuk merasa damai: “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu” (Kolose 3:15).

  • Kita diperintahkan untuk merasa bersemangat: Roma 12:11, “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala [literal: ‘mendidih’].” Ini bukanlah sebuah pilihan, ini bukanlah sebuah dekorasi. Ini adalah sebuah perintah! “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor.”

  • Kita diperintahkan untuk merasa sedih: Roma 12:15, “Menangislah dengan orang yang menangis.” Anda tidak memiliki pilihan. Anda harus menangis, Anda harus merasakan tangisan bersama dengan orang-orang yang menangis.

  • Kita diperintahkan untuk merasa mengingini: 1 Petrus 2:2, “Selalu ingin akan air susu firman yang murni dan yang rohani.” Ini bukan sebuah pilihan. Anda tidak dapat mengatakan, “Saya tidak dapat membangkitkan cukup banyak keinginan, maka bagaimana saya dapat menaati perintah ini? Itu tidak mungkin sungguh-sungguh sebuah perintah.” Salah! Ya, Anda tidak dapat menghidupkan dan mematikan perasaan-perasaan ini semau sendiri. Tidak, perasaan-perasaan itu tetap merupakan kewajiban. Di dalam inilah terletak keadaan kita yang memprihatinkan sebagaimana yang telah kita dengar dalam pembahasan tadi malam.

    Segala hal yang sekarang sedang saya katakan kepada Anda bahwa Anda diperintahkan untuk melakukannya ini, takkan dapat Anda lakukan saat ini, semata-mata dengan kekuatan kemauan atau keputusan atau komitmen. Anda hanya dapat melakukannya dengan mujizat. Tidakkah Anda menjadi putus asa? Tidakkah diwajibkan oleh Allah yang Mahakuasa untuk melakukan apa yang tidak mampu Anda lakukan itu membuat putus asa? Sekiranya hati Anda benar, Anda akan mampu melakukannya. Kita ini sudah jatuh dalam dosa dan kita diperintahkan untuk memiliki perasaan lemah lembut: “Jadilah ramah dan lemah lembut satu kepada yang lain.” Anda tidak dapat hanya mengatakan bahwa pengampunan berarti mengatakan, “Saya menyesal.” Anda harus merasakannya.

  • Kita diperintahkan untuk merasa bersyukur. Sebagai contoh, seorang anak pada suatu pagi hari Natal mendapat sebuah hadiah dari sang nenek ... dan itu adalah sepasang kaos kaki hitam! Astaga! Sesungguhnyalah tak seorang anak pun ingin mendapat hadiah kaos kaki, apalagi kaos kaki hitam, pada hari Natal pula. Namun kemudian Anda berkata, “Katakan terima kasih kepada nenekmu.” Lalu anak itu pun berkata, “Terima kasih untuk kaos kakinya.” Ini bukanlah yang dimaksud oleh Alkitab. Anak itu dapat mengatakan terima kasih hanya dengan kekuatan kehendak. Tetapi ia takkan dapat merasa bersyukur untuk kaos kaki itu dengan kekuatan kehendak. Anda juga tidak dapat merasa bersyukur kepada Allah dengan kekuatan kehendak, sebagaimana diperintahkan oleh Efesus 5:20 “Ucaplah syukur atas segala sesuatu.” Maka, kita akan celaka, kecuali kalau Allah yang Maha Kuasa berkenan untuk berkarya.

Keberatan nomor 3? Keberatan itu tidak menyurutkan saya. Saya tidak percaya bahwa saya sedang meninggikan afeksi dan perasaan dan emosi lebih tinggi daripada yang Alkitab maksudkan. Saya pikir saya sedang mengembalikan semua itu ke tempat semula, dari tempat di mana kekuatan kehendak yang berpusat pada pengambilan keputusan dan digerakkan oleh komitmen, keyakinan kita-dapat-melakukannya yang khas Amerika itu kita buang karena semua hal tersebut berada di luar kontrol kita.

4. Bagaimana dengan Visi Mulia untuk Melayani Allah?

Bukankah melayani Allah itu adalah sebuah kewajiban? Itu tidak terdengar seperti pelayanan yang biasa Anda bicarakan dalam Kekristenan, Piper. Itu sama sekali tidak terdengar seperti pelayanan – bersifat wajib, berespons terhadap tantangan untuk melakukan kehendak Allah sekalipun itu sulit.

Terhadap hal itu saya sekarang telah belajar untuk berespons, “Mari kita meninjau beberapa teks yang membentuk metafora tentang perhambaan.” Semua metafora mengenai hubungan Anda dengan Allah, apakah itu sebagai seorang hamba, atau anak, atau teman, di dalamnya terdapat sejumlah elemen yang jika Anda tekankan akan menjadi salah. Sebaliknya, semua metafora tersebut juga memiliki sejumlah elemen yang jika Anda tekankan akan menjadi benar. Jadi, apa sajakah yang salah atau yang benar dalam analogi mengenai perhambaan itu?

Teks yang akan menolong Anda untuk membedakan kedua hal tersebut, sehingga Anda tidak jatuh ke dalam dosa penghujatan ketika Anda melayani, adalah teks-teks seperti dalam Kisah Para Rasul 17:25: “Allah tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.” Allah tidak dilayani, saudara-saudara. Hati-hati. Ia bukan dilayani dengan cara seolah-olah Ia membutuhkan Anda atau pelayanan Anda. Ia bukan demikian. Atau lihatlah teks seperti dalam Markus 10:45: “Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Ia datang bukan untuk dilayani. Perhatikanlah! Waspadalah! Jika Anda berusaha untuk melayani Dia, maka Anda akan menelikung maksud-Nya! Betapapun, ini membingungkan, bukan? Paulus menyebut dirinya sebagai seorang hamba Tuhan dalam hampir semua surat yang ditulisnya. Dan di sini, dalam Kisah Para Rasul 17:25 dan Markus 10:45 ini dikatakan bahwa Allah tidak dilayani dan Anak manusia datang bukan untuk dilayani. Maka, pasti ada semacam pelayanan yang jahat dan pelayanan yang baik. Lalu, seperti apakah pelayanan yang baik itu?

Pelayanan yang baik itu adalah seperti yang dikemukakan dalam 1 Petrus 4:11: “Jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu.” Allah tidak dilayani dengan tangan manusia seolah-olah Ia kekurangan sesuatu. Anda pasti telah mengetahui cara untuk melakukan ibadah, mengetik naskah, mengikuti kuliah, mengendarai mobil, mengganti popok, menyampaikan khotbah, dengan suatu cara sedemikian rupa, sehingga Anda dapat selalu menjadi pihak penerima. Karena pihak pemberi mendapatkan kemuliaan, dan pihak penerima memperoleh sukacita. Kapan saja kita berselisih jalan dengan Kisah Para Rasul 17:25 – “Allah tidak dilayani oleh tangan manusia [seolah-olah Ia adalah penerima,] seolah-olah Ia kekurangan apa-apa” – kita telah melakukan dosa penghujatan.

Kemarin saya memberikan sebuah ilustrasi, kepada para peserta program kepemimpinan dalam konferensi ini. Ilustrasi yang bertemakan pelayanan itu diambil dari Matius 6:24. Di sana dikatakan, “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Jadi, di sini kita sedang membicarakan pelayanan. Bagaimana Anda melayani uang? Anda tidak melayani uang dengan memenuhi kebutuhan uang. Anda melayani uang dengan cara memosisikan hidup Anda tanpa kenal kompromi, mengerahkan segenap tenaga, waktu dan upaya Anda, untuk memperoleh untung dari uang. Pikiran Anda terus berputar mencari cara melakukan investasi dengan cerdik, cara memperoleh penawaran terbaik, cara menanamkan investasi di tempat yang nilainya masih rendah sehingga kelak nilainya akan menjadi tinggi, dan Anda sedemikian sibuk memikirkan cara mendapatkan untung dari uang, karena uang memang menjadi pusat kehidupan Anda.

Jika demikian cara Anda melayani uang, lalu bagaimana cara Anda melayani Allah? Akan persis sama tentunya. Anda memosisikan diri Anda, Anda merancang hidup Anda, dan Anda mengerahkan segenap tenaga, upaya, waktu dan kreativitas demi memosisikan diri Anda di bawah air terjun berkat Allah yang tak berkesudahan, sehingga Ia tetap menjadi sumber dan Anda tetap menjadi penerima yang tak memiliki apa-apa. Anda tetap menjadi penerima, Ia tetap menjadi pemberinya; Anda tetap merasa lapar, Ia tetap menjadi rotinya; Anda tetap merasa haus, Ia tetap menjadi airnya. Sesungguhnyalah, Anda tidak boleh melakukan upaya pembalikan peran yang menghujat Allah. Kita selayaknyalah menemukan cara untuk melayani sehingga kita boleh tetap tinggal dalam kekuatan yang dianugerahkan Allah. Saya berada di sisi penerima ketika saya sedang melayani. Jika tidak demikian, maka saya menempatkan Allah pada posisi penerima; saya menjadi pemberinya, sehingga saya pun menjadi Allah. Dan ada banyak agama seperti itu di dunia. Jadi, keberatan nomor 4 pun gugur pula.

5. Tidakkah Anda Sedang Menjadikan Diri Anda sebagai Pusat Perhatian?

“Anda berbicara tentang mengejar sukacita Anda dan kesukaan Anda. Anda berbicara tentang kewajiban sebagai sesuatu yang lain daripada apa yang selama ini kami ketahui, dan Anda mengatakan bahwa kami selayaknya berhati-hati dalam melayani. Bagi saya, itu terdengar seperti Anda sedang melakukan manuver dan manipulasi terhadap bahasa Alkitab demi semata menjadikan diri Anda pusat perhatian.” Di antara semua keberatan di atas, ini akan menjadi kritik yang paling menghancurkan, bukan?

Inilah jawaban saya. Pada tanggal 21 Desember, saya telah menikah selama 28 tahun. Saya sangat mencintai Noel. Kami telah melewati banyak hal bersama-sama, saat susah maupun saat senang. Kami telah melihat anak-anak remaja kami melewati masa-masa remaja yang luar biasa sulit. Saya paling mudah menangis ketika memikirkan tentang anak-anak laki-laki dan anak perempuan saya. Mari kita berandai-andai. Pada tanggal 21 Desember saya pulang ke rumah dengan 28 tangkai mawar merah di belakang punggung saya dan saya membunyikan bel pintu. Lalu Noel bergegas membukakan pintu dan memandang dengan bingung melihat saya membunyikan bel pintu rumah saya sendiri. Selanjutnya, saya pun mengeluarkan mawar dari balik punggung saya serta mengatakan “Selamat ulang tahun pernikahan Noel.” Kemudian ia mengatakan, “Johny, bunga-bunga itu cantik sekali! Mengapa engkau membawanya?” Dan saya menjawab, “Itu kewajiban saya.”

Jawaban yang salah. Marilah kita ulangi.

[Ting Tong]

– “Selamat ulang tahun pernikahan Noel!”

– “Johnny, Bunga-bunga itu indah sekali! Mengapa engkau membawanya?”

– “Tak satu hal pun akan lebih membahagiakan aku daripada membelikanmu bunga-bunga mawar. Sesungguhnya, mengapa engkau tidak berganti pakaian sekarang, karena aku sudah memanggil seorang pengasuh anak. Malam ini kita akan pergi melakukan sesuatu yang istimewa, karena tak satu hal pun akan lebih baik untuk kulakukan malam ini, selain menghabiskan malam denganmu.”

Jawaban yang benar.

Mengapa? Mengapa Noel tidak mengatakan, “Kau sungguh seorang hedonis Kristen yang paling egois yang pernah aku temui! Semua yang kaupikirkan hanyalah apa yang membuatmu bahagia!” Apa yang sedang terjadi di sini? Mengapa kewajiban menjadi jawaban yang salah dan kesukaan menjadi jawaban yang benar? Mengertikah Anda?

Jika Anda memahami hal ini, maka berarti Anda sudah memahami maksud saya, dan saya dapat pulang ke Minneapolis serta memuji Allah. Istri saya paling dimuliakan di dalam saya, ketika saya paling dipuaskan di dalam dia. Jika saya mencoba mengubah hubungan kami menjadi relasi pelayanan, menjadi relasi kewajiban di mana saya tidak mengejar kesukaan saya di dalam dia, maka ia justru akan merasa diremehkan. Demikian juga halnya dengan Allah. Ketika Anda tiba di sorga dan Bapa memandang kepada Anda seraya bertanya, “Mengapa engkau ada di sini? Mengapa engkau mempersembahkan hidupmu bagi-Ku?” sebaiknya Anda tidak menjawab, “Sudah menjadi kewajibanku untuk datang, karena aku adalah orang Kristen.” Sebaiknya Anda mengatakan, “Ke mana lagi aku ingin pergi? Kepada siapa lagi aku dapat berpaling? Engkau adalah keinginan jiwaku!” Dan itulah yang menjadi tema konferensi ini. Konferensi ini membahas dua hal besar yang datang bersama-sama dalam 268 generasi dari Yesaya 26:8: itu adalah gairah Allah bagi nama-Nya dan kemasyhuran-Nya, dan gairah hati saya untuk dipuaskan di dalam seluruh hasrat saya. Keduanya merupakan dua hal paling tak tergoyahkan di dalam alam semesta. Dan saya berharap Anda telah memahami bahwa kedua hal tersebut adalah satu, karena Allah dan nama-Nya dan kemasyhuran-Nya paling dimuliakan di dalam saya ketika saya paling dipuaskan di dalam Dia.