Dapatkah Kita Belajar Sesuatu dari Teman-teman Ayub mengenai Cara Membantu Orang-orang yang Tersakiti?


Berikut ini adalah transkripsi audio yang telah diedit.

Dapatkah kita belajar sesuatu dari teman-teman Ayub mengenai cara membantu orang-orang yang tersakiti?

Tentu saja. Tujuh hari pertama itu merupakan waktu yang sangat baik bagi mereka. Jika saja mereka berhenti di situ, mereka adalah pahlawan, menurut saya, karena mereka memperlihatkan belas kasih dan kesabaran. Itulah yang seharusnya kita pelajari.

Saat Anda berjalan ke arah suatu bencana yang mengerikan, Anda harus benar-benar lambat berbicara tetapi cepat mendengar. Anda harus cepat berteriak, cepat berpegangan, dan cepat memenuhi kebutuhan, membawa makanan, dan menunggu Tuhan. Pergumulan teologis datang belakangan, mungkin. Dan hal ini berbeda untuk orang yang berbeda.

Tetapi pelajaran yang kita dapatkan dari kitab Ayub adalah, sementara ketiga orang temannya, yaitu Elifas, Bildad, dan Zofar duduk di tengah-tengah debu dan abu, berbela rasa bersama teman mereka Ayub, Ayub pun tertolong oleh mereka. Dan banyak orang tertolong hanya dengan kehadiran yang penuh kasih dari orang lain.

Menurut saya hal ini tidak meniadakan pentingnya kebenaran. Berikut ini contohnya.

Saya dan Tom Steller adalah rekan kerja; kami sudah bekerja sama selama 24 tahun. Dahulu saya dan Tom kadang-kadang berkata satu sama lain, "Sungguh luar biasa kalau kita bisa bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, dan akan lebih luar biasa lagi kalau akhirnya kita meninggal bersama, Tom." Dan tergantung dari siapa dari kita yang menjenguk yang lain di rumah sakit di hari-hari akhir kita, kita tahu, karena setelah 24 tahun dan (sekarang) setelah 54 tahun bersama, kita tidak perlu mengucapkan apa-apa. Semuanya sudah terkatakan. Kita berbagi teologi yang sama. Tidak satu pun dari kita harus saling mengkhotbahi untuk memperbaiki pemikiran-pemikiran kita. Kita semua tahu bahwa Tuhan bertakhta, Tuhan baik, Tuhan penuh kasih, dan Tuhan bijaksana. Kita dalam kebingungan, tapi kau tidak perlu berkhobah. Mari kita saling berpegangan tangan dan berdoa, serta melakukan peperangan iman ini bersama.